Monday, April 02, 2007
Blog-hopped over this just now:1.
Iblis tertawa mendengarnya, lalu berkata, “Wahai tukang intip yang ceroboh, kenapa kau kunjungi aku hanya untuk mengutukku dan memohon perlindungan-Nya? Padahal bukan aku yang mendatangimu. Aku bahkan tak pernah mengganggumu, wahai Buhariah. Engkaulah yang menggangguku, dan kini engkau mengutukku karenanya?! Yang benar saja!”
Buhariah berkata, “Aku mengutuk ‘ia yang terkutuk’; tak peduli apa situasinya.”
Iblis tersenyum lalu berkata, “Kau mengutukku? Sadarkah kau, bahwa kau tengah mengutuk ‘ia yang telah dilaknat karena kutukannya’?! Aku mengutuk Adam, dan karenanya aku diusir dari surga. Mestinya kau lebih berhati-hati dalam mengutuk; atau memang kau tak ada bedanya dengan Adam yang juga diusir dari surga? Adam dan aku telah dikutuk oleh Allah. Jadi, buat apa aku harus takut pada kutukan Buhariah?”
2.
Kening Iblis berkerut. Ia memandang tajam. “Kau bilang Adam berdosa gara-gara hasutanku? Kalau begitu, atas hasutan siapa aku melakukan dosa? Tak ada gunanya kau mencaciku sebagai monster buta, karena itu sama saja dengan menghina dirimu sendiri. Saat aku menyembah Allah di pintu kerajaan-Nya, aku menuduh Adam dan seluruh keturunannya di hadapan Allah.
Ingatkah kau bagaimana kejadiannya saat itu? Apakah kau turut membela bangsamu (bangsa manusia) di hadapan Allah? Ataukah kau belum lagi lahir? Sekarang kau dengan lancangnya datang dan menuduhku. Bagaimana bisa sang penuduh diadili oleh tuduhannya sendiri, dan masih harus diadili pula oleh si tertuduh?
Adam saja tidak pernah berbicara sekasar itu padaku; tidak pula menyalahkanku, walaupun aku telah menggiringnya ke kehancuran. Tapi ia tak akan pernah melupakan perannya dalam kehancuranku. Aku bersekongkol melawan Adam hanya setelah Allah mengusirku dari surga karena dia. Sekarang, dengan naifnya kau berani menghinaku dan meninggikan derajatnya (Adam) dengan omong kosong bahwa, ‘Hatinya penuh kepedihan dalam penyesalan.’
Bah! Aku menyembah Allah selama 700 ribu tahun! Tak ada tempat tersisa di langit dan bumi di mana aku tak menyembah-Nya. Sama sekali tak pantas bagimu untuk memandang sesama pemuja Allah dengan kebencian. Ibadahmu, walau dikalikan seribu kali umurmu, tak lebih dari setetes air di lautan dibanding cintaku pada-Nya. Apa hakmu menantangku yang masih terhitung malaikat Allah ini, meludahiku dengan fitnah bahwa aku membangkang kepada-Nya? Jangan berani-berani mengaku pada Tuhanmu bahwa, ‘Aku lebih baik daripada dia!’ “
3.
Iblis berkata, “Bagaimana mungkin aku memohon ampun lantaran mematuhi keinginan Allah? Aku tak mungkin menyembah siapa pun selain Allah, karena itulah perintah yang sesungguhnya. Pembuangan ini adalah ujian-Nya, untuk melihat apakah aku akan melanggar sumpahku dan memuja seorang berhala. Lihatlah di balik jubah kemurkaan-Nya, dan temukan bentuk sejati dari cinta-Nya. Lihatlah di balik gunung kutukan-Nya, dan selami permata kasih sayang dan ampunan-Nya. Jangan melihat wujudku semata-mata sebagai hukuman-Nya. Di balik setiap bejana yang retak, pasti dia sisipkan anggur yang manis.”
4.
Iblis berkata, “Cintaku pada-Nya tak pernah luntur sejak aku berdiri di hadapan-Nya. Kau sendiri, kapan kau pernah bersama-Nya? Sekali saja kau pandng matahari, sengatan cahayanya akan menyakitimu. Bahkan saat kau tutup lagi matamu, masih saja kau rasakan sengatan yang membakar, apalagi saat terik. Sedangkan aku, dalam keadaan buta pun masih kulihat wajahnya!
Jangan hanya menilai fisik. Saat kutatap Adam, yang kulihat pun hanya tanah lempung. Jika aku memang tak lebih dari sekedar wujud yang buruk, maka kau sendiri tak lebih berarti daripada debu.
Jangan tertipu oleh penampilan lahir segala sesuatu. Mengabaikan kesejatian batin bisa membahayakan mereka yang ingin memahami makna keesaan ilahiah.”
Iblis melanjutkan, “Ingatlah pada kisah Benyamin, putra Ya’qub, ketika ia menemani saudara-saudaranya ke Mesir dan mereka diundang sebagai tamu oleh seorang Raja Mesir. Selama perjamuan berlangsung sang Raja memanggil Benyamin untuk berbicara empat mata dengannya. ‘Ketahuilah, aku ini sebenarnya Yusuf, saudaramu yang telah lama hilang. Jangan katakan pada saudaramu yang lain bahwa kau telah menemukan aku, jangan pula mengatakan bahwa aku masih hidup. Mereka telah berlaku jahat dan bersekongkol melawanku. Akan kutahan kau di sini dengan sebuah siasat, agar mereka ingat bagaimana mereka menyusun siasat untuk menipu ayah kita. Setelah itu, barulah aku akan mengungkap identitasku yang sebenarnya kepada mereka.’
Keesokan paginya, Yusuf membekali mereka dengan bahan makanan. Diam-diam ia juga menyelipkan gelas miliknya di antara barang-barang Benyamin. Setelah beberapa saat, pasukan berkuda Yusuf menghentikan kafilah para putra Ya’qub. Anak buah Yusuf langsung melancarkan tuduhan, ‘Kalian adlah pencuri yang telah merendahkan martabat dengan menyimpan barang milik tuan kami tanpa izin!’
Lewi berkata, ‘Apa yang hilang?’
‘Gelas tuan kami, terbuat dari emas,’ jawab orang-orang Yusuf. ‘Kami akan menggeledah perbekalan kalian. Jika kami temukan gelas itu, si pencuri akan kami seret sebagai tawanan tuan kami - dan ia tak akan pernah kembali.’
Lewi berkata, ‘Silakan saja, kami sungguh tak bersalah.’
Saat mereka menggeledah barang-barang Benyamin, tentu saja mereka menemukan apa yang dicari tersembunyi di situ. Ini membuat Lewi menjerit antara kaget dan ngeri melihatnya. Pasukan berkuda Yusuf segera menahan Benyamin dan mengembalikan ia pada tuan mereka. Inilah bagaimana Yusuf bersiasat melawan saudara-saudaranya; di mana berkah bagi seseorang bisa tampak sebagai kutukan bagi yang lain.
‘Wahai Benyamin!’ pekik Lewi memelas. ‘Kenapa kau sampai mencuri?’
Tapi Benyamin tak protes sedikit pun. Ia malah berkata, ‘Jika orang Mesir itu sampai memenggal leherku, akan kugenangi tamannya dengan darahku.’ “
Iblis memotong ceritanya sejenak, menepuk-nepuk dadanya yang besar dan bidang. “Nah, aku adalah orang yang setia pada kesejatian perintah yang sesungguhnya, bahkan jika harus tampak seolah-olah membangkang.”
5.
“Kisah lain,” lanjut Iblis. “Konon Raja Mahmud selama memerintah dikelilingi oleh para penjilat dan penghasut. Setiap senyum yang ia temui rasanya menyimpan kebencian. Ia tak bisa memercayai siapa pun di istana, kecuali sang putra mahkota yang ia cintai lebih dari hidupnya sendiri. Pemuda inipun bisa mencium bahaya di istana, dan pada suatu hari berkata pada ayahnya, ‘Ayahanda, mari kita pura-pura bertengkar dan kita tunjukkan pertengkaran kita terang-terangan. Pada saat itu, mereka yang diam-diam membenci dan ingin menghancurkanmu pasti akan segera menarikku dalam rencana mereka.’
Sang ayah awalnya merasa ragu, melihat betapa bahayanya hal ini bagi si anak. Tapi si anak bersikeras dan akhirnya sang Raja menyetujui. Di hadapan banyak pejabat istana, sang Raja dan putranya mulai bertengkar dan saling berteriak. Tapi tak ada seorang pun yang mendekati putranya karena ia dikenal amat mencintai ayahnya.
Putra mahkota berkata, ‘Ayahanda, penjarakanlah aku agar para penghasut berpikir bahwa pertengkaran kita memang sungguhan. Barangkali saja pada saat itu mereka akan membuka kedok mereka padaku.’
Lagi-lagi Mahmud ragu, karena ia jelas tak ingin melihat anaknya dipenjara. Tapi sekali lagi sia anak berkeras dan sang Raja akhirnya luluh. Setelah beberapa bulan mendekam di penjara, si anak mengirimkan sepucuk surat rahasia padanya. ‘Ayahanda, tak ada yang percaya kalau pertengkaran kita sungguhan. Jatuhkanlah hukuman yang mengerikan buatku agar mereka lebih yakin. Suruh para prajurit Ayah untuk mencambuk dan menghukum mati diriku. Dengan begini, para pembenci Ayah pasti akan segera membelaku.’
Ketika Raja menerima pesan tersebut ia memekik ngeri. ‘Bagaimana mungkin kulakukan hal ini?’
Beberapa bulan berlalu, si anak tetap merana di penjara sementara sang Raja masih ragu untuk menjatuhkan hukuman. Akhirnya si anak mengirim pesan lagi pada Mahmud, ‘Jika Ayahanda tak segera memerintahkan agar aku dihukum cmbuk, maka sia-sialah penderitaaanku selama ini. Segera jatuhkan hukuman. Jangan sampai kelembekan hati Ayah terhadapku malah jadi penghalang.’
Sekali lagi sang ayah terpaksa menuruti kemauan anaknya dan menjatuhkan hukuman. Segera saja para pembenci sang Raja bergabung membela putra mahkota. Setelah bebas, sang putra mahkota mengumumkan pemberontakan secara terbuka; ia berjanji untuk menggantikan posisi ayahnya.
Rakyat tentu saja mengutuk habis-habisan si anak; tapi seluruh musuh sang Raja - baik yang terang-terangan maupun yang sembunyi-sembunyi dengan bersemangat menjilat si anak. Sementara itu, si anak juga tak putusnya mengirimkan pesan rahasia dan membeberkan segalanya pada sang Raja. Dengan demikian, sia anak berhasil melindungi ayahnya, sekaligus merontokkan kekuatan oposisi.
Rakyat yang mencintai Mahmud dengan segera membenci si anak, tanpa sama sekali mengetahui duduk perkara sebenarnya.”
Iblis berkata lagi, “Jadi, aku sebenarnya melakukan apa yang Dia perintahkan, dan aku sepenuhnya patuh pada keinginan Allah. Mau bagaimana lagi? Tak ada ruang yang luput dari kuasa-Nya. Aku bukanlah tuan bagi keinginanku sendiri; jika kuturuti keinginanku, sudah pasti akan kujaga kedekatanku dengan-Nya dari melakukan kesalahan konyol semacam itu, tak peduli berapapun harganya. Istana-Nya penuh dengan para penjilat yang mencintai-Nya karena takut. Allah telah memberiku kuasa atas dunia demi menyingkap kuasa-Nya yang agung. Kekuasaanku tentu saja tersamar; karena semua adalah milik-Nya. Tetapi melalui aku, Dia meninggikan dan memuliakan diri-Nya. Dengan berperang melawanku, sekalian makhluk-Nya akan menjadi lebih tangguh dan terbukti keimanannya.
Jangan tuding aku sebagai sumber penderitaan manusia. Justru manusialah yang merupakan sumber malapetaka bagiku. Karena Adam-lah aku dikutuk. Karena dosa-dosanya, aku juga dibuang. Sementara tuduhanku kepadanya, semuanya nyata. Hanya karena tak rela sujud di atas debu untuk memuja anak debu (Adam), aku dilaknat.
Kau tahu, di surga, Kekasihku tega mencelakaiku karena aku tak sanggup meninggalkan-Nya. Bahkan para malaikat berkata, ‘Iblis adalah yang pertama kali tunduk kepada Allah, karena tiada yang lebih mencintai Allah daripada dia.’ Tapi Dia memerintahkan perpisahan kami agar umat manusia berkesempatan menyelami keesaan-Nya. Dia umumkan ketidak-patuhanku agar manusia memahami kekuasaan-Nya. Saat dia memerintahkanku untuk sujud di hadapan Adam, diam-diam Dia berbisik di dalam dadaku, ‘Pergilah, dan ingatkan mereka tentang Aku!’
6.
Jadi, Dia sendirilah yang memilihku untuk memberontak; bukan aku. Kutetapkan hatiku sampai detik ini. Aku diciptakan untuk menyembah-Nya. Sama sekali tak ada pilihan buatku dalam hal ini. Katakan padaku, di manakah di antara kekuasaan-Nya yang agung, pilihan itu pernah Dia bebaskan bagiku?”
7.
Iblis berkata, “Semua pilihan, termasuk pilihanku, adalah milik-Nya! Dia sudah memilih dan menetapkan untukku. Kepada-Nya berpulang semua pilihan-bebas bagi mereka yang menganggap memiliki pilihan dalam hidup. Dan pilihan-bebasku adalah milik-Nya juga. Jika Dia yang melarang aku untuk tunduk pada pihak lain, bagaimana mungkin aku menentang-Nya? Dan jika Dia yang membuatku melakukan dosa saat berbicara, bagaimana mungkin aku membela diri? Jadi, jika Dia memang menghendaki agar aku sujud pada Adam, aku pasti patuh.
Kutukan-Nya adalah mahkota emas bagiku. Kuingat dan kuulang selalu setiap kata-kata-Nya waktu itu, setiap saat dengan penuh kenikmatan.”
*Ini cuplikan dari beberapa bagian yang kusukai dari buku “Iblis Menggugat Tuhan”. Sebenarnya masih banyak dialog-dialog seru, tapi saking banyaknya, nyalinnya jadi kesel (kesel dalam bahasa Jawa, lho, yang berarti capek). Inti analogi Iblis yang aku suka adalah bahwa semua kejadian di alam semesta tidak bisa lepas dari kehendak Tuhan. Iblis menjadi biang dosa pun adalah sebuah grand-plot dari Tuhan. Iblis tidak bisa disalahkan dalam usahanya menyesatkan manusia!
Jadi, jika ada mata Pedang yang mengarah ke lehermu, maka siapakah yang akan kamu maki dan salahkan? Pedang itu sendiri ataukah Sang Penggenggam Pedang?
To the last question, someone commented:
Pertama kali seharusnya bukan salah satu di antara si pedang atau sang penggenggam pedang yang harus disalahkan, tetapi diri kita sendiri. Tidakkah lebih baik kita bercermin dulu, mungkin mata pedang yg mengarah ke leher kita bukanlah suatu ancaman melainkan suatu peringatan atau bahkan hukuman.
Tidak pantas kita menyalahkan pihak lain atas kesalahan yang kita lakukan sendiri…
Hmhmm. Pengen komentar juga tp sekarang harus siap" kerja, jadi ntar deh kalo ada waktu dan minat baru dijawab..
7:37:00 AM